MEDIA INTEGRITAS INDONESIA
Tangsel – Banten ( 10/10/2026 )
Hari Kesehatan Mental Sedunia dirayakan setiap tanggal 10 Oktober. Tema Resmi dari WHO “Lived experiences heard : real voices,real change “.Pengalaman Hidup di Dengar : Suara Nyata,Perubahan Nyata ”
Dengan tujuan untuk mengajak masyarakat ,institusi dan pembuat kebijakan untuk mendengarkan langsung cerita serta melibatkan para penyintas atau orang dengan pengalaman hidup (people with lived experience / PWLE ) dalam merancang layanan,kebijakan dan dukungan kesehatan mental yang lebih baik.
Peringatan ini pertama kali di gagas dan di rancangkan oleh World Federation for Mental Health ( WFMH ) pada tahun 1992.
Lebih dari 1miliar hingga 1.2 miliar orang di dunia saat ini hidup dengan gangguan mental ( paling banyak adalah kecemasan/anxiety dan depresi ).Terjadi kesenjangan besar antara jumlah penderita dan akses medis. Secara global baru sekitar sepertiga ( 33%) penderita depresi dan 40 % penderita psikosis yang menderita perawatan formal.
Sekretaris Jenderal PBB,Antonio Guterres mendesak pemerintah dunia untuk meninggalkan praktik isolasi / pencucian di rumah sakit jiwa ( yang saat ini masih mendominasi 80% sistem di berbagai negara ).PBB mendorong peralihan anggaran dan investasi ke arah perawatan inklusif berbasis komunitas agar pasien bisa pulih di lingkungan sosialnya.
Potret situasi di Indonesia berdasarkan data 5.5 persen remaja Indonesia memenuhi kriteria klinis,memiliki seridaknya satu gangguan mental. Namun baru 2.6 persen dari mereka yang berhasil mengakses dukungan psikologis profesional atau layanan konseling.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan sekitar 1.4 % hingga 2 % penduduk usia di atas 15 tahun menunjukkan indikasi depresi dengan angka tertinggi berada di kelompok usia muda (15 – 24 tahun ).
Peringatan tahun ini menekankan bahwa penanganan kesehatan mental harus bergeser dari sekedar tata laksana medis klinis kaku menuju pendekatan humanis yang menghormati HAM serta menaruh perhatian penuh pada perspektif nyata para penyitas demi menciptakan sistem pelayanan yang lebih efektif dan tidak diskriminatif.
Journalis : Yoen