Jakarta – Rumah produksi Come And See Pictures resmi meluncurkan trailer perdana film horor komedi “Ghost in the Cell” dalam konferensi pers yang digelar di XXI Epicentrum, Senin (23/2/2026). Acara yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB itu langsung dipadati awak media dan para pemain, menandai antusiasme tinggi terhadap proyek terbaru garapan sineas kenamaan Tanah Air.
Dalam pemaparannya, sutradara sekaligus penulis film, Joko Anwar, menegaskan bahwa pemilihan penjara sebagai latar utama bukan sekadar estetika visual. Ia menyebut penjara sebagai “miniatur kehidupan” yang merepresentasikan struktur sosial lengkap dengan hierarki kekuasaan, aparat, hingga warga di dalamnya. “Ada pemerintahnya, ada petugas lapas sebagai representasi penguasa, ada warga negaranya yaitu para napi. Dinamika antara masyarakat dan penguasa sangat kuat di set penjara,” ujarnya.
Konsep tersebut, lanjut Joko, menjadi fondasi utama dalam membangun konflik dan lapisan cerita. Penjara bukan hanya ruang fisik, melainkan simbol relasi kuasa yang kerap terjadi di kehidupan nyata. Dalam balutan genre horor komedi, film ini mencoba menghadirkan ketegangan sekaligus satire sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat.Konferensi pers turut dihadiri produser Tia Hasibuan serta sinematografer Jaisal Tanjung. Dari jajaran pemain, sejumlah nama besar hadir, di antaranya Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Lukman Sardi, Morgan Oey, hingga Aming. Deretan nama tersebut memperkuat klaim film ini sebagai proyek dengan ensemble cast terbesar sepanjang karier Joko Anwar.“Ini film ensemble cast terbesar yang pernah saya buat. Semua karakter punya fungsi vital. Kalau satu saja dikeluarkan, cerita tidak akan berjalan,” tegas Joko. Pernyataan itu menandakan bahwa setiap tokoh memiliki peran strategis dalam membangun alur, bukan sekadar pelengkap narasi.
Genre horor komedi yang diusung juga menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, atmosfer penjara identik dengan ketegangan dan keterbatasan ruang. Di sisi lain, unsur komedi hadir untuk mencairkan situasi sekaligus mempertegas kritik sosial yang ingin disampaikan. Moderator acara bahkan sempat menyoroti jelasnya hierarki di dalam penjara yang disebut mirip dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.Secara produksi, film ini menunjukkan ambisi besar dari Come And See Pictures dalam menghadirkan tontonan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah refleksi. Dengan komposisi pemain lintas generasi dan latar tunggal yang intens, “Ghost in the Cell” diproyeksikan menjadi salah satu rilisan paling dinanti tahun ini.Peluncuran trailer ini sekaligus membuka babak baru promosi film yang diyakini akan memantik diskusi publik. Jika melihat rekam jejak Joko Anwar dalam meramu horor dengan kedalaman tema, “Ghost in the Cell” berpotensi bukan hanya menjadi hiburan box office, tetapi juga cermin sosial yang memancing perenunganSutradara Joko Anwar menyimpan kritik sosial dalam film ke-12 bersama rumah produksi Come And See Pictures berjudul “Ghost in the Cell” (Hantu di dalam Penjara).
Film horor komedi itu dijadwalkan menyapa penonton bioskop Indonesia pada 16 April mendatang.
Joko Anwar saat ditemui ANTARA seusai konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) filmnya di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara dalam film tersebut berfungsi sebagai metafora bagi kondisi sosial masyarakat.
“Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya,” ujar Joko.
Ia menambahkan bahwa dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi sangat kuat di dalam sel penjara.
Produser Tia Hasibuan mengungkapkan bahwa proses syuting selama 22 hari berlangsung secara efektif hingga “hanya menghabiskan setengah hari” merujuk pada produktivitas tinggi di mana tim mampu menyelesaikan target harian dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada standar syuting harian pada umumnya.
“Kenapa bisa cepat, mungkin yang pertama itu karena skenarionya. Skenario kita tuh ada 97 halaman… tapi jumlah scene (adegan)-nya itu cuma sedikit, cuma 40 scene,” kata Tia.
Ia juga menyoroti penggunaan teknik penyutradaraan dari Joko Anwar di film itu.
“Bang Joko banyak menggunakan “long one shot”, satu scene bisa 10 sampai 15 halaman, dikerjain dalam satu shot, muter-muter tuh kamera,” kata Tia.
Pemeran utama Abimana Aryasatya menegaskan bahwa suasana penjara dalam film akan terasa sangat nyata dan penuh sebagaimana kritik terhadap situasi Lembaga Pemasyarakatan yang asli.
“Penuh Mas. Kita betul-betul yang masuk ke dalam, masuk sampai ke luar. Sel kita memang sel yang berlantai dua itu, bisa dinaiki, penuh,” tutur Abimana.
Senada dengan hal itu, sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung yang juga ikut berakting mengatakan, “Kita set up tuh semua seluruh sel penjara, lighting-nya (pencahayaan), semua pencahayaannya kita set up supaya pemain merasa bahwa ini playground (tempat bermain) mereka”.
Aktor muda Endy Arfian yang berperan sebagai Dimas menyatakan bahwa karakternya merupakan cerminan jurnalisme saat ini.
“Dimas ini adalah gambaran nyata tentang risiko para jurnalis di Indonesia yang sampai saat ini masih dirasakan… bagaimana kebebasan pers itu masih dipertanyakan, ada intimidasi, ada kriminalisasi,” jelas Endy.
Setelah sukses melakukan world premiere (pemutaran perdana dunia) di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026, film “Ghost in the Cell” telah diakuisisi untuk distribusi global oleh Plaion Pictures.
Yad/doe

