Jakarta – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, suasana khidmat terasa begitu memasuki Vihara Gayatri di Jalan Cilangkap, Tapos, Kota Depok.
Aroma dupa yang baru dibakar menyambut umat dan pengunjung yang datang untuk berdoa maupun menyaksikan persiapan ibadah.Sepekan terakhir, pengelola vihara menggelar agenda bersih-bersih sebagai bagian dari persiapan menyambut Imlek yang sarat dengan doa serta penghormatan kepada dewa dan leluhur. Kegiatan ini menjadi ritual rutin untuk memastikan rumah ibadah dalam kondisi bersih dan layak digunakan.Proses pembersihan dimulai dari mencuci hiolo atau tempat abu dupa, membersihkan kimsin atau patung dewa-dewi, hingga menyapu dan merapikan setiap sudut ruang penghormatan leluhur. Di vihara ini, terdapat sekitar tujuh hingga delapan ruangan khusus untuk penghormatan leluhur yang seluruhnya dibersihkan secara menyeluruh.Nuansa Imlek semakin terasa dengan pernak-pernik bernuansa merah yang menghiasi ruang sembahyang. Lampion-lampion digantung berjajar, dengan secarik kertas harapan yang tersemat di bagian bawahnya. Kertas tersebut melambangkan doa umat yang ditujukan kepada Shen Ming atau dewa.Agenda bersih-bersih juga dilakukan hingga ke area belakang vihara yang terdapat sumur tujuh. Setiap sumur memiliki panjatan doa yang berbeda dan dipercaya sebagai sarana ritual pembersihan diri. Ritual ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Tionghoa, tetapi terbuka bagi seluruh umat manusia yang ingin berdoa. Vihara Gayatri sendiri berdiri sejak 1983 atas prakarsa Linawati atau Lie Tju Eng. Sejak awal, vihara ini menjadi tempat bernaung bagi siapa pun yang ingin menepi dan memanjatkan doa.Tradisi bersih-bersih menjelang Imlek pun telah menjadi aktivitas yang melekat bagi para pengelola demi menciptakan suasana ibadah yang khidmat saat perayaan Imlek pada Selasa (17/2/2026). “Setelah dibersihkan, nanti akan ada juga pemasangan lilin, ini tergantung orang pesan dulu. Lilin itu akan kita pasang selama 15 hari ke depan hingga Festival Cap Gomeh,” ucap Pengelola Vihara Gayatri, Wira, kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026). Wira menjelaskan, pemasangan lilin dimaknai sebagai simbol penerangan spiritual di awal tahun yang disertai panjatan doa dari umat. Ritual pemasangan lilin dijadwalkan berlangsung pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB.Meski demikian, pemasangan lilin bukanlah ritual wajib. Menurut Wira, kegiatan tersebut merupakan salah satu layanan vihara bagi jemaat yang ingin berpartisipasi. “Enggak ada sembahyang yang khusus untuk Imlek kalaubdi sini. Jadi kita biarkan orang datang, sembahyang, lalu kembali pulang,” ujarnya. Dengan pola ibadah yang terbuka, jumlah pengunjung yang datang ke vihara pun bervariasi setiap harinya. Wira menyebut, jumlah umat yang datang untuk sembahyang bisa mencapai sekitar 500 orang, dengan waktu kunjungan yang tersebar sejak pagi hingga sore hari. Di momen Imlek ini, Wira juga menyampaikan harapannya bagi Indonesia dan lingkungan sekitar vihara.”Kalau Imlek harapan saya ya, saya pribadi, kedepannya semoga Indonesia tambah baik, dipimpin oleh orang-orang yang baik. Dan semuanya menjadi baik dengan apa yang kita lakukan sekarang,” jelas Wira. “Ke depannya semoga ekonomi kita membaik, negara kita makin baik. Dan harapan saya, vihara ini masih bisa berkembang dan bermanfaat bagi orang-orang sekitar,” lanjut.
Menjelang Tahun Baru Imlek, suasana di Boen Tek Bio memang tak pernah benar-benar sepi. Sejumlah pengurus dan umat terlihat bergotong royong.
Ada yang membersihkan altar dengan kain putih, ada yang memoles kembali ornamen kayu berukir naga, ada pula yang menggantung lampion satu per satu di serambi depan.
Tapi menilik sejarah, Klenteng Boen Tek Bio berdiri di jantung Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, sejak abad ke-17 atau 1684.
Di usia lebih dari tiga abad, Boen Tek Bio masih berdiri gagah. Dindingnya menyimpan kisah panjang tentang warga Tionghoa Benten, komunitas yang tumbuh dari perjumpaan sejarah, perpindahan, dan perjuangan bertahan hidup sejak masa kolonial.
Selepas tragedi Geger Pacinan 1740 di Batavia, banyak warga Tionghoa menyingkir ke pinggiran, termasuk ke Tangerang. Di sepanjang aliran Cisadane, mereka membangun kehidupan baru.
Mereka berbaur dengan masyarakat lokal, menggunakan bahasa setempat, bahkan menyerap tradisi sekitar. Namun satu hal tetap dijaga, keyakinan dan nilai leluhur dan Boen Tek Bio menjadi penopangnya.
Nama klenteng ini mengandung harapan: Boen berarti budaya atau sastra, Tek berarti kebajikan, dan Bio berarti tempat ibadah. Tempat ini bukan sekadar ruang sembahyang, melainkan rumah bagi kebajikan dan kebudayaan. Malam pergantian tahun selalu menjadi puncaknya.
Bagi masyarakat Tionghoa Benteng, Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Ia adalah momen pulang, pulang pada keluarga, pada leluhur, pada nilai kebajikan yang diajarkan turun-temurun. Kue keranjang tersaji di meja, angpao berpindah tangan, dan tawa keluarga mengisi ruang-ruang rumah.
Namun yang membuat Boen Tek Bio istimewa bukan hanya sejarahnya yang panjang. Di tengah masyarakat Tangerang yang majemuk, klenteng ini berdiri sebagai simbol kebersamaan.Setiap Imlek, warga non-Tionghoa ikut membantu menjaga keamanan, bahkan turut menikmati kemeriahan barongsai dan lampion yang menghiasi jalanan.
Tiga abad lebih telah berlalu. Pasar Lama terus berubah, gedung-gedung modern tumbuh, generasi berganti. Tetapi di bawah lampion merah Boen Tek Bio, satu hal tetap sama: harapan.
Setiap tahun, di tempat yang sama, orang-orang datang membawa doa dan pulang membawa keyakinan bahwa esok bisa lebih baik. Di antara asap dupa dan dentuman petasan, sejarah dan masa depan seolah bertemu mengikat kebajikan, budaya, dan kebersamaan dalam satu perayaan bernama Imlek.
Yad/Doe

