Alhamdulillaah, Mesjid Al-Haq Hidupkan Suasana Ramadhan Dengan Sanlat, Ust.A.Malik : “Ayo Menjadi Pemuda Harapan Agama, Bangsa dan Keluarga”

Kota Tangerang || Integritas Indonesia

“Kalian harus bisa menjadi pemuda harapan agama, bangsa dan keluarga” ucap Ustad Drs.M.Abdul Malik, S.Psi saat mengisi hari pertama kegiatan religi ‘Pesantren Kilat (Sanlat)’ di Mesjid Al-Haq Komplek Pepabri Kelurahan Kunciran Kecamatan Pinang Kota Tangerang pada Jum’at sore, 13 Maret 2026.

Dihadiri ketua DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid) Mesjid Al-Haq Agus, Ketua RW Taufan Eka Prasetya, pengurus DKM Deden & Dedi, remaja Mesjid Al-Haq dan puluhan anak-anak peserta kegiatan Sanlat.

Di hari 10 terakhir bulan suci Ramadhan, dimana ada malam mulia yakni ‘Lailatul-Qodr’ suatu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan (84 tahun), DKM Mesjid Al-Haq mengadakan agenda Pesantren Kilat atau Sanlat selama 3 hari, dimulai dari hari Jum’at-Ahad (13-15 Maret 2026) yang diikuti anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) serta Remaja Mesjid Al-Haq. Menghadirkan pembicara antara lain, Drs.M.Abdul Malik, S.Psi dihari Jum’at, Muchtar Hanafi dihari Sabtu dan Billy Antoro dihari Ahad.

Dalam materi nya, Drs.M.Abdul Malik, S.Psi menekankan pentingnya peningkatan amal ibadah di bulan suci Ramadhan karena sudah jelas bahwa Allah swt akan melipat gandakan pahalanya dari bulan biasa. “Jangan bermalas-malasan untuk beribadah di bulan Ramadhan. Terutama di hari 10 terakhir bulan Ramadhan yang ada malam mulia, ‘Lailatul-Qodr’. Allah swt berikan malam ini hanya pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah untuk menjadi yang terbaik”

“Dari kalian, suatu kelak nanti ada yang jadi tentara, polisi, insinyur, menteri, dokter yang sudah memiliki bekal agama. Jadi dokter, saat mau menyuntik pasien ucap ‘Bismillaah..’, jadi tentara saat mau angkat senjata, ucap ‘Bismillaah..’, saat jadi insinyur mau melaksanakan suatu projek ucap ‘Bismillaah..’ maka semuanya jadi amal perbuatan yang bermanfaat” lanjutnya.

“Banyak kisah sahabat Nabi Muhammad saw yang masih berusia muda tapi sudah bisa tampil, seperti Zaid bin Tsabit (16 thn) menjadi penerjemah Nabi Muhammad saw yang menguasai bahasa Syria dan Ibrani. Hafal Al-Qur’an yang berkontribusi pada pembukuan kitab suci Al-Qur’an sejak pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lalu di Indonesia, ada Ghazi Abdullah Muttaqin (21 thn) yang menguasai hafalan Al-Qur’an dan banyak bahasa. Mendirikan pondok pesantren dan dikenal di kancah nasional maupun internasional” tambahnya.

Dari kegiatan Pesantren Kilat ini diharapkan para peserta memiliki bekal dan pengetahuan agama sehingga bisa menjadi seorang pemuda muslim yang berguna bagi agama, bangsa dan keluarga..

(Red/AMS)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *