Semarang – Media Integritas Indonesia – Jawa Tengah
Minggu, 23 Agustus 2026
Kabar santer dan menjadi buah bibir hampir seluruh masyarakat yang berdomisili ditiap – tiap kabupaten yang masuk diwilayah Provinsi Jawa Tengah .
Keluhan hampir seluruh masyarakat di Jawa Tengah sedang merasakan udara yang panas ( suhu panas naik ) , termasuk di wilayah Pemerintah Kabupaten Pemalang ,
Warga yang berada di salah satu dusun , desa , wilayah kecamatan bagian selatan Pemalang sudah mengalami krisis air ( sedang dilanda bencana kekeringan ) .
BMKG ingatkan wilayah Jateng siaga kekeringan meteorologis adapun
Peta peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Provinsi Jawa Tengah pada dasarian ketiga bulan Agustus atau periode 21-31 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah (Jateng) mengingatkan seluruh wilayah Jateng untuk siaga menghadapi potensi kekeringan meteorologis dengan curah hujan rendah pada dasarian III Agustus 2026.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto ( dikutip dari link resmi BMKG ) dan
Ia mengatakan berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus, peluang curah hujan kategori rendah di bawah 50 milimeter per dasarian di seluruh wilayah Jawa Tengah lebih dari 90 persen.
Selanjutnya dijelaskan untuk waktu sementara berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026, status peringatan terbagi menjadi Awas, Siaga, dan Waspada.
Ia kembali menjelaskan status ” Awas meliputi :
* Demak, Kudus,
* Grobogan, Jepara,
* Pati, Rembang,
* Blora, Sragen,
* Karanganyar, Purworejo,
* Klaten, Magelang,
* Cilacap, dan Wonogiri.
Selanjutnya wilayah di tiap- tiap kabupaten / kota dengan status Siaga :
* Brebes, Tegal,
* Pemalang, Pekalongan,
* Batang, Kendal,
* Banyumas, Purbalingga,
* Banjarnegara, Wonosobo,
* Kebumen, Temanggung,
* Semarang, Boyolali,
* Sukoharjo, Semarang, Kota
* Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
Sementara status Waspada diprediksikan untuk :
* Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.
” Status Waspada merupakan peringatan awal ketika hujan tidak turun selama minimal 21 hari. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan membatasi pemakaian untuk kebutuhan yang tidak mendesak,” kata Goeroeh.
Ia mengatakan lebih gamblang status Siaga menunjukkan hujan tidak turun minimal 31 hari sehingga sumber air seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mulai menyusut.
Menurut dia, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada sektor pertanian dan memerlukan pengelolaan irigasi lebih ketat.
“Adapun status Awas merupakan kondisi paling kritis ketika hujan tidak turun minimal 61 hari berturut-turut.
Tanah menjadi sangat kering, sumber air berpotensi mengering, dan kekeringan dapat mengancam kebutuhan dasar masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan seluruh status tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen.
Pada status Awas, kata dia, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi air secara rutin.
“Masyarakat juga diminta memprioritaskan air untuk minum dan memasak,” katanya.
Ia mengatakan kekeringan juga meningkatkan ancaman gagal panen pada lahan tadah hujan. Oleh karena itu, petani dianjurkan mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan kering dan tidak memaksakan komoditas yang membutuhkan banyak air.
Baca juga: Warga Jateng dapat bantuan 160 tangki air bersih hadapi kekeringan
Selain itu, risiko kebakaran meningkat akibat banyaknya material kering, sehingga masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Kondisi kekeringan juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pernapasan akibat keterbatasan air bersih serta paparan debu.
“BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026, dengan awal September dipetakan sebagai fase paling kering,” ujar Goeroeh.
Penulis : Susmono ( Ramsus )
Sumber Berita : BMKG Provinsi Jawa Tengah

